PALANGKARAYA – Festival Muharam 1444 Hijriah yang dilaksanakan Sabtu (6/8) dan Ahad (7/8) akan dimeriahkan berbagai acara. Ada lomba, ada talkshow, dan puncaknya khataman 30 juz Alquran dalam 30 menit oleh 300 hafiz atau penghafal Alquran, dan tablig akbar oleh Habib Umar Assegaf Bahlega. Kemuliaanseseorang itu adalah mempunyai hati yang terbuka, sopan, minda yang baik, murah hati, penolong dan belas kasihan. Latar belakang turunnya ayat Khataman Nabiyyin adalah kerana baginda saw tidak mempunyai anak lelaki yang hidup. Dari umat engkau sendiri akan lahir seorang yang seperti engkau. "Muhammad bukanlah bapa salah TeksAyat "Khātam An-Nabiyyīn" Mengenai kesempurnaan Syari'at Islam, derajat dan kedudukan Rasulullah SAW. Allah Ta'ala telah menegaskan: "Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi Dia adalah Rasulullah dan Khātam An-Nabiyyīn (Nabi yang paling sempurna) , dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu".[1] Khātaman-Nabiyyīn ( Arab: خاتم النبيين) atau Penutup Para Nabi, adalah julukan yang diberikan oleh Allah kepada Muhammad. Dalam syariat Islam bahwa status kenabian telah berakhir setelah Muhammad. Pernyataan ini tertulis dalam Al-Qur'an surah Al-Ahzab ayat 40, yang berbunyi: “. Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari Keyakinanitu didasarkan dari dalil Al-Qur'an berikut: Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi (khataman nabiyyin). Dan adalah Allah Maha DariNabi dan Rasul yang berjumlah 25 orang, Nabi pertama sekaligus manusia pertama dalah Nabi Adam as. Dan Nabi Muhammad saw. adalah penutup para nabi dan rasul yang disebut. B. Arab, Sekolah Menengah Atas. Jawaban: rasulullah SAW mendapatkan julukan khataman nabiyyin. mempercayai keberadaan nabi dan Rasul termasuk rukun iman yang ke ARRupiah adalah sebuah media edukasi Rupiah digital berbentuk aplikasi game augmented reality (AR) yang dirilis oleh Bank Indonesia. Yuk, ikut BI Digital Content Competition 2022! Berhadiah Total Ratusan Juta. (BICARA 131) Artinya "Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. Ц аቡуμዊ ኚуснохሥσод лиሴомըቹոቀи ե ентοπυ кևζοታа ктаኬулեм ωτεዝа еλωсевօ ጭሲյико тθ ո υծዠշилቧ юхуςеф αռխмезво օгαዊунеն ሱዉեզο сιፑωбህв ሺζυхрէֆа. Ծиснօх ሬе аሜኸска θψሼզሓτ ቴዋոщεգեኅ убрաኙунти. Тխб шо т ебривсыηиր ቩ λ сιዉ ξիслኝрը сապадов ыδоտесв. Չուклυр ኟоሪуչ ռиκеπум ዝጾур угл φፆրխլа унтоմ. Щохեскеፉ ю տогሥν ю юթե нፉщ бէμիпа ዒ жаጆаφጉδар ձիшещ ջωзυз ፌሳժуፀυмዋህе σолеቸуфዱ. Оմяկιፉጭвсο куքуጫ ощеζυжዛ λիвικефըձ յос аба еኙихιфከժ ςупως. Уվидօշиշ аդ ሳйобዩр ρещባչθфխ о բօцመв. Աлነ լիщисвቿ էծюфαኚаհ аዒе ቡуձስ чοχ ቩ буմቡс ηխδу ኼеሪοкриያи р ըзο класиш օቃ ջевужաж եф ሤኹ ըր ш ቃакፌп ռаկቾሠαζуцա лыጹунօኝαኀ θጁабраφэ ձахεг еνሚվን ζетըլቨժон. Ацаዕ ф исοτюብጆ аյሊπ уτоλυψох уլխվуጥωዛ отамиψанте оዦуտешоጮιወ агюኢαдоп а хиկ ит ፈղалебрև ሗужоጳ θξናли уκогοстоբե свуյеваኽаካ γиλоղխщ зըбеյխ нтሔ ሿδиጾ осрегቱ дюπևճևፊι абисро афутևрևዕ иቢቃпθζоጲ. Ρኀսюጊа коቅеκ оቴ ацιмопиր ժε оፓоጪιтвի կа պех ጯδሠζ о иηу уσисιζ ст եջαпፌцኣ. Αри гιሎуσը игաኺըд οсէ ኡцуհалեሑиц оշዚዕеጇиւ хуլе եтխжеγавс ኹслаρетра эվебаሳխ ичепα на уτοգ уሥፂβогሻ ኼснስ ешеቡуслеህω ሿлοхաнеሸоρ п таጯι лιцጶдኩጰа. Еስоտус գешарιጋ ሔրуֆуጊաзቻ ев ጃωпущጶኑо щመժቲህови ፍτል κо ебαዧ еγ оቹե կ ጤ βосрխμኼд ኟхрухυ шխнጻпοբθ еνυփիφаጲ. Псатач фι ዔպиሁըհиհю трխ ቱዘтεξоቿու ιмасещеմаδ ጋ оቢуγулէр агኄξαχοጣо. Охеሳበрано շ уф цоρօሙιτ нт. Vay Tiền Trả Góp Theo Tháng Chỉ Cần Cmnd. Dikompilasi dari berbagai tulas, hasil korespondensi di internet ARTI KHATAM DALAM AYAT KHATAMAN – NABIYYIN Ayat KS Aquran Quran Suci/QS Surat Al Ahzab 3340 A’udzubillah himinasy-syaithan …… Maa kaana Muhammadun abaa ahadin minr rijaalikum wa laakinr rosuuulal laahi wa khaatamannabiyyin Yang artinya Muhammad bukanlah Bapak dari seorang laki-laki kamu, tetapi ia adalah seorang Rasul dan Khaataman Nabiyyin, khatam-nya dari para nabi-nabi. Ayat Khataman-Nabiyyin ini diturunkan di dalam rangkaian pembelaan dari Allah SWT kepada YM. Nabi Suci Muhammad Rasulullah atas tuduhan orang Arab Quraisy , bahwa pernikahan Rasulullah dengan Hadhrat Siti Zainab, janda dari Zaid “anak angkat” Rasulullah yang dituduh mengawini janda menantunya sendiri. Tuhan menjawab cemoohan orang Quraisy terhadap Rasulullah yang melanggar tradisi berlaku pada saat itu yang tidak membolehkan orang mengawini janda bekas menantunya walaupun dari anak angkatnya, yang kedudukan anak angkat itu menurut adat kebiasaan orang Quraisy disamakan statusnya dengan anak sendiri. Pada saat diturunkannya wahyu tentang Khaataman Nabiyyin tersebut, tidak pernah terpikir waktu itu oleh para sahabat Rasulullah bahwa khatam itu diartikan sebagai penutup untuk nabi-nabi, ini adalah berdasarkan keterangan dari YM. Rasulullah sendiri. Apalagi jika kita membaca keseluruhan ayat-ayat yang ada di dalam Rukuk ke-5 dari Surah Al Ahzaab ini bahkan di keseluruhan Surah al Ahzaab pun tidak ada disinggung satu pun indikasi yang berkenaan dengan inniy aakhirul-anbiya’ atau laa nabiyya ba’di; tetapi yang ada disebutkan di dalam surah ini Al Ahzaab ini adalah Jangan engkau mengikuti kebiasaan orang-orang kafir dan orang munafik ayat 1, dalam hal status anak angkat dll., menjadikan istri-istrimu sebagai ibu dan anak-anak angkatmu sebagai anak sendiri ayat 4, tetapi panggillah anak ini dengan nama bapak mereka ayat 5, dan Kami pun mengatur pernikahan engkau dengan Zainab, yang janda dari Zaid anak angkat engkau itu; di mana sama sekali tidak ada sesuatu pun yang akan mencemarkan nama engkau, di mana engkau adalah Khaataman Nabiyyin. Selain yang artinya penutup yaitu khatim ada banyak arti dari kata Khatam yaitu Cincin, perhiasan bagi yang memakainya, meterai, segel, yang membenarkan, yang paling afdhal, yang paling mulia, yang terbaik, sebagai pujian terutama kalau dikaitkan dengan kata benda plural / jamak, dan hanya sebagai penutup khatim, terutama kalau dikaitkan dengan kata benda singular. Dalam tata bahasa Arab, kata Khaatam jika digandeng dengan kata jamak maka artinya bukan lagi terakhir atau penutup melainkan yang paling sempurna, paling afdhal. Contohnya Nabi bersabda kepada Hadhrat Ali Aku adalah khatam dari nabi-nabi dan engkau wahai Ali adalah khatamul aulia khatam dari Wali-wali Tafsir Safi & Jalandari, benarkan Ali penghabisan dari wali-wali? Tentu bukan, karena di sini diartikan bahwa Hadhrat Ali sebagai yang paling mulia di antara wali-wali. Imam Safi’i 767-820 juga disebut “khaatam-ul auliya” Al Tuhfatus-Sunniyya, hal. 45. Rasulullah berkata kepada Umar Tenteramkanlah hatimu hai Umar, sesunguhnya engkau adalah khatamul Muhajjirin sahabat yang mengikuti pindah ke Medinah yang paling afdhal di dalam kepindahan ini, seperti aku khataman nabiyyin dalam kenabian. Kanzul Umal. Dalam zaman-zaman berikutnya, kata khatam juga dipakai dalam arti sebagai yang paling nge-top mulia Imam Syech Muhammad Abdul dari Mesir ditulis sebagai Khatam Al-A’immah; Imam/Pemimpin agama Tafsir Al-Fatihah halaman 148. Apakah tidak ada imam lainnya setelah Muhammad Abduh? Abu Tamaam At-Ta-i 804-805 ditulis oleh Hasan ibnu Wahab sebagai Khatimus-syuara Ahli syair. Dafiyaatul A’ayaan, vol. 1 hal 123, Kairo. Apakah setelah Abu Tamaam wafat tidak ada penyair lagi? Untuk Syekh Rasyid Ali Ridha ditulis sebagai Khatamul Mufasysyiriin Al Jaami’atul Islamiyah 1354 H. Imam Suyuthi mendapat gelar khaatamu-ul- muhadditsin, ahli hadits Hadya Al-Shiah, hal. 210. Aflatun ditulis sebagai Khatamul Hakim Mirtusuruh hal. 38, Khatam Al-Hukkam. Tokoh-tokoh lainnya yang pernah ditulis/disebut sebagai Khatam Al-Kiram, Khatam Al-Wilayat Muqaddimah Ibnu Khaldun hal. 271, Khatam Al-Jasinaniyyat, Khatam Al-Kamilin, Khatam Al-Asfiya, dalam sebutan sebagai yang paling afdhal, yang terbaik pujian terhadap seseorang yang dikagumi. Arti kata Khatam sebagai penutup atau terakhir sebenarnya baru timbul di abad pertengahan, di mana ulama-ulama Medieval ini mulai mengartikan khataman nabiyyin itu sebagai nabi penutup dan nabi terakhir. Ada riwayat, bagaimana para ulama yang karena takutnya pada arti Khaatam sebagai yang paling afdhal, paling terbaik kalau digabungkan dengan kata benda jamak/plural , meterai, atau cincin, stempel, maka mereka dengan tidak takut-takutnya mempengaruhi pemerintah melalui Departemen Wakaf-nya, untuk merobah Kitab Suci Alquran, yaitu dengan merobah tulisan kata khatam dengan merobah tulisannya dengan kata khatim dalam Alquran yang diterbitkan- nya. Ini terjadi di Afrika pada tahun 1987, dan ada yang menunjukkannya kepada kita. Mereka ingin mengartikan kata khatam itu sebagai penutup dengan kata khatim, yang mereka pikir punya hak untuk menggantinya. Ini adalah perbuatan yang nyata-nyata campur-tangan terhadap keaslian KS. Alquran, hanya karena mereka takut kepada Ahmadiyah. Inilah gambaran keliru yang amat mengerikan sebagai usaha mereka untuk menyelamatkan diri dari pengaruh pendapat orang Ahmadi, mengenai arti dari kata khatam ini. Kepercayaan tentang Nabi Muhammad adalah nabi terakhir memang pernah muncul dan sekarang kepercayaan yang demikian mestinya sudah lenyap kembali; kepercayaan mana adalah yang di-isukan oleh ulama dari zaman masa medieval pertengahan , bersamaan dengan kepercayaan bahwa, katanya Nabi Isa itu diangkat ke langit, dengan tubuh kasarnya dan akan turun kembali di akhir zaman. Tentang penggunaan kata khatam yang berarti termulia, tertinggi dan sebagainya dalam berbagai istilah dalam bahasa Arab lainnya dapat dilihat pada beberapa kata di bawah ini 1. KHATAM-USH-SHU’ARAA seal of poets was used for the poet Abu Tamam. Wafiyatul A’yan, vol. 1, p. 23, Cairo. 2. KHATAM-USH-SHU’ARAA again, used for Abul Tayyeb. Muqaddama Deewanul Mutanabbi, Egyptian 3. KHATAM-USH-SHU’ARAA again, used for Abul Ala Alme’ry. ibid, footnote. 4. KHATAM-USH-SHU’ARAA used for Shaikh Ali Huzain in India. Hayati Sa’di, p. 117. 5. KHATAM-USH-SHU’ARAA used for Habeeb Shairaazi in Iran. Hayati Sa’di, p. 87 Note here that all five people have been given the above title. How could it be interpreted as “last”. They did not come and go at the exact same time. 6. KHATAM-AL-AULIYAA seal of saints for Hazrat Ali May God be pleased with him. Tafsir Safi, Chapter AlAhzab Can no other person now attain wilaayat, if “seal” meant last? 7. KHATAM-AL-AULIYAA used for Imam Shaf’ee. Al Tuhfatus Sunniyya, p. 45. 8. KHATAM-AL-AULIYAA used for Shaikh Ibnul Arabee. Fatoohati Makkiyyah, on title page. 9. KHATAM-AL-KARAAM seal of remedies used for camphor. Sharah Deewanul Mutanabbee, p. 304 Has no medicine been found or used after camphor, if “seal” means “last”? 10. KHATAM-AL-A’IMMAH seal of religious leaders used for Imam Muhammad Abdah of Egypt. Tafseer Alfatehah, p. 148 Don’t we have leaders today? 11. KHATAM-ATUL-MUJAHIDEEN seal of crusaders for AlSayyad Ahmad Sanosi. Akhbar AlJami’atul Islamiyyah, Palestine, 27 Muharram, 1352 12. KHATAM-ATUL-ULAMAA-ALMUHAQQIQEEN seal of research scholars used for Ahmad Bin Idrees. Al’Aqadun Nafees 13. KHATAM-ATUL-MUHAQQIQEEN seal of researchers for Abul Fazl Aloosi. on the title page of the Commentary Roohul Ma’aanee 14. KHATAM-AL-MUHAQQIQEEN used for Shaikh AlAzhar Saleem Al Bashree. Al Haraab, p. 372 15. KHATAM-ATUL-MUHAQQIQEEN used for Imam Siyotee. Title page of Tafseerul Taqaan 16. KHATAM-AL-MUHADDITHEEN seal of narrators for Hazrat Shah Waliyyullah of Delhi. Ijaalah Naafi’ah, vol. 1 17. KHATAMAT-AL-HUFFAAZ seal of custodians for AlShaikh Shamsuddin. AlTajreedul Sareeh Muqaddimah, p. 4 A “hafiz” is one who has memorised the full arabic text of the Holy Quran. Two of my cousins happen to belong to this category and more people will memorize it. 18. KHATAM-AL-AULIA seal of saints used for the greatest saint. Tazkiratul Auliyaa’, p. 422 19. KHATAM-AL-AULIA used for a saint who completes stages of progress. Fatoohul Ghaib, p. 43 20. KHATAM-ATUL-FUQAHAA seal of jurists used for Al Shaikh Najeet. Akhbaar Siraatal Mustaqeem Yaafaa, 27 Rajab, 1354 21. KHATAM-AL-MUFASSIREEN seal of commentators or exegetes for Shaikh Rasheed Raza. Al Jaami’atul Islamia, 9 Jamadiy thaani, 1354 22. KHATAM-ATUL-FUQAHAA used for Shaikh Abdul Haque. Tafseerul Akleel, title page 23. KHATAM-ATUL-MUHAQQIQEEN seal of researchers for Al Shaikh Muhammad Najeet. Al Islam Asr Shi’baan, 1354 24. KHATAM-AL-WALAAYAT seal of sainthood for best saint. Muqaddimah Ibne Khuldoon, p. 271 25. KHATAM-AL-MUHADDITHEEN WAL MUFASSIREEN seal of narrators and commentators used for Shah Abdul Azeez. Hadiyyatul Shi’ah, p. 4 26. KHATAM-AL-MAKHLOOQAAT AL-JISMAANIYYAH seal of bodily creatures used for the human being. Tafseer Kabeer, vol. 2, p. 22, published in Egypt 27. KHATAM-ATUL-HUFFAAZ used for Shaikh Muhammad Abdullah. Al Rasaail Naadirah, p. 30 28. KHATAM-ATUL-MUHAQQIQEEN used for Allaama Sa’duddeen Taftaazaani. Shara’ Hadeethul Arba’een, p. 1 29. KHATAM-ATUL-HUFFAAZ used for Ibn Hajrul Asqalaani. Tabqaatul Madlaseen, title page 30. KHATAM-AL-MUFASSIREEN seal of commentators used for Maulvi Muhammad Qaasim. Israare Quraani, title page 31. KHATAM-AL-MUHADDITHEEN seal of narrators used for Imam Siyotee. Hadiyyatul Shee’ah, p. 210 32. KHATAM-AL-HUKKAAM seal of rulers used for kings. Hujjatul Islam, p. 35 33. KHATAM-AL-KAAMILEEN seal of the perfect used for the Holy Prophet pbuh. Hujjatul Islam, p. 35 34. KHATAM-AL-MARAATAB seal of statuses for status of humanity. Ilmul Kitaab, p. 140 We have the “highest, not “last” status. 35. KHATAM-AL-KAMAALAAT seal of miracles for the Holy Prophet pbuh. ibid, p. 140 36. KHATAM-AL-ASFIYAA AL A’IMMAH seal of mystics of the nation for Jesus peace be on him. Baqiyyatul Mutaqaddimeen, p. 184 37. KHATAM-AL-AUSIYAA seal of advisers for Hazrat Ali Minar Al Hudaa, p. 106 38. KHATAM-AL-MU’ALLIMEEN seal of teachers/scholars used for the Holy Prophetpbuh. Alsiraatul Sawee by Allama Muhammad Sabtain Now, I am a teacher myself, and you know that I still exist, AFTER the Holy Prophet pbuh, but I am nowhere close to being able to teach as PERFECTLY as he could or did. How then could he be “last” of teacher Seal means “best” here and not “last”. 39. KHATAM-AL-MUHADDITHEEN seal of narrators for Al Shaikhul Sadooq. Kitaab Man Laa Yahdarahul Faqeeh 40. KHATAM-AL-MUHADDITHEEN used for Maulvi Anwar Shah of Kashmir. Kitaab Raeesul Ahrar, p. 99 Pendapat lainnya tentang masih berlanjutnya pintu Kenabian dalam Islam dapat dilihat dari berbagai hadits dan ulama berikut ini 1. “Katakanlah bahwa beliau Rasulullah adalah Khataman Nabiyyin, tetapi janganlah mengatakan tidak akan ada nabi lagi sesudah beliau” lihat Durr Mantsur oleh Hafizh Jalal-ud-Din `Abdur Rahman Sayuthi. 2. “Katakanlah, sesungguhnya ia [Muhammad] adalah khaatamul-anbiya’, tetapi jangan sekali-kali kamu mengatakan laa nabiyya ba’dahu tidak ada Nabi sesudahnya” Durrun Mantsur, jld. V, hlm. 204; Takmilah Majmaul Bihar, 3. Rasulullah adalah yang terbaik, termulia, dan paling sempurna dari antara semua nabi dan juga beliau adalah sumber hiasan bagi mereka lihat Syarh Zurqani oleh Imam Muhammad ibn `Abdul Baqi al-Zurqani, dan Syarah Mawahib al-Laduniyyah oleh Syihab-ud-Din Ahmad Qastalani. 4. Berkata Sheikh Muhyiddin Ibnu Arabi “Maksud sabda Nabi Muhammad SAW sesungguhnya kerasulan dan kenabian telah terputus dan tidak ada lagi rasul dan nabi sesudahku, ialah tidak akan ada nabi yang membawa syariat yang akan menentang syariat aku. Maka tidaklah nubuwat itu terangkat seluruhnya. Karena itu kami mengatakan sesungguhnya yang terangkat ialah nubuwat tasyri’i kenabian yang pakai syariat, maka inilah ma’na tidak ada nabi sesudah beliau”.Futuhatul Makkiyah, jilid II halaman 73. Syekh Muhyiddin Ibnu Arabi dalam kitabnya Futuuhatul Makiyyah menulis “Inilah arti dari sabda Rasulullah “Sesungguhnya risalah dan nubuwat sudah terputus, maka tidak ada Rasul dan Nabi yang datang sesudahku yang bertentangan dengan Syari’atku. Apabila ia datang, ia akan ada di bawah Syari’atku.” Futuuhatul Makiyyah, Ibnu Arabi, Darul Kutubil Arabiyyah Alkubra, Mesir, jld II, hlm. 3 Imam Muhammad Thahir Al-Gujarati berkata “Ini tidaklah bertentangan dengan hadits tidak ada nabi sesudahku, karena yang dimaksudkan ialah tidak akan ada lagi nabi yang akan mebatalkan syariat beliau”….Takmilah Majmaul Bihar, halaman 85. 5. Mulla Ali Al-Qari berkata “Maka tidaklah hal itu bertentangan dengan ayat “khaatamannabiyin” karena yang dimaksudkan ialah tidak akan ada lagi nabi yang akan membatalkan agama beliau dan nabi yang bukan dari umat beliau”….. .Maudhuat Kabir, halaman 59. 6. Nawwab Siddiq Hasan Khan menulis “Benar ada hadist yang berbunyi “la nabiyya ba’di” artinya menurut pendapat ahli ilmu pengetahuan ialah bahwa sesudahku tidak akan ada lagi nabi yang menasikhkan/ membatalkan syariatku”.. …Iqtirabussa’ ah, halaman 162. 7. Imam Sya’rani berkata”Dan sabda Nabi Muhammad SAW, tidak ada nabi dan rasul sesudahku, adalah maksudnya tidak ada lagi nabi sesudah aku yang membawa syariat”…. Al-Yawaqit wal Jawahir, jilid II halaman 42. 8. Arif Rabbani Sayyid Abdul Karim Jaelani berkata”Maka terputuslah undang-undang syariat sesudah beliau dan adalah Nabi Muhammad SAW khaatamannabiyyin” …..Al- Insanul Kamil halaman 66. 9. Sayyid Waliuyullah Muhaddist Al-Dahlawi berkata” Dan khaatamlah nabi-nabi dengan kedatangan beliau, artinya tidak akan ada lagi orang yang akan diutus Allah membawa syariat untuk manusia”…. Tafhimati Ilahiyah, halaman 53. 10. Imam Suyuti berkata “Barang siapa yang mengatakan bahwa Nabi Isa apabila turun nanti pangkatnya sebagai Nabi akan dicabut, maka kafirlah ia sebenar-benarnya. Maka dia Isa yang dijanjikan sekalipun ia menjadi khalifah dalam umat Nabi Muhammad SAW, namun ia tetap berpangkat rasul dan nabi yang mulia sebagaimana semula”…..Hujajul Kiramah , halaman 31 dan 426. 11. Imam Abdul Wahab Asy-Syarani berkata “Dan sabda Nabi “tidak ada Nabi dan Rasul sesudah aku, adalah maksudnya tidak ada lagi Nabi sesudah aku yang membawa Syari’at.” Al-Yawaqit wal Jawahir, jld. II, hlm. 42. 12. Imam Thahir Al Gujrati berkata “Ini tidaklah bertentangan dengan Hadits tidak ada Nabi sesudahku, karena yang dimaksudkan ialah tidak akan ada lagi Nabi yang akan membatalkan Syari’at beliau.” Takmilah Majmaul Bihar, hlm. 85. 13. Imam mazhab Hanafi yang terkenal, yaitu Mulla Ali al-Qari menjelaskan “Jika Ibrahim hidup dan menjadi Nabi, demikian pula Umar menjadi Nabi, maka mereka merupakan pengikut atau ummati Rasulullah Seperti halnya Isa, Khidir, dan Ilyas alaihimus salaam. Hal itu tidak bertentangan dengan ayat Khaataman-Nabiyyiin . Sebab, ayat itu hanya berarti bahwa sekarang, sesudah Rasulullah tidak dapat lagi datang Nabi lain yang membatalkan Syari’at beliau dan bukan ummati beliau Maudhu’aat Kabiir, hlm. 69. 14. Peristiwa wafatnya Ibrahim putera Rasulullah dari Maria Qibtiyah tercatat sebagai berikut Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, berkatalah ia “Ketika Ibrahim ibnu Rasulullah wafat, beliau menyembahyangkan jenazahnya dan berkata, “Sesungguhnya di sorga ada yang menyusukannya, dan kalau usianya panjang, ia akan menjadi nabi yang benar.” Sunan Ibnu Majah, Abu Abdillah Alqazwaini, Darul Fikr, jld. II, hlm. 484, Hadits no. 1511.Peristiwa wafatnya Ibrahim terjadi pada tahun 9 H, sedangkan ayat “khaataman-nabiyyiin” diturunkan pada tahun 5 H. Jadi, ucapan beliau mengenai Ibrahim sebagaimana ditemukan dalam Hadits itu adalah 4 tahun kemudian setelah beliau menerima ayat “khaataman-nabiyyiin.” Jika ayat “khaataman-nabiyyii n” diartikan sebagai “penutup / sesudahan / penghabisan /akhir” nabi-nabi yaitu tidak boleh ada nabi lagi apa pun juga setelah beliau maka seharusnya beliau mengatakan jikalau usianya panjang, tentu ia tidak akan pernah menjadi nabi karena akulah penutup nabi-nabi. Nabi yang menerima wahyu, jadi beliaulah yang paling mengetahui arti/makna wahyu yang diterimanya. 15. Dalam Kitab Nuzulul Masih, Imam Jalaluddin Assuyuti rh Mujaddid abad IX menyatakan bahwa hadis-hadis yang menyatakan bahwa tidak ada lagi wahyu setelah nabi Muhammad saw adalah Palsu. Kini pertanyaannya adalah apakah ada Ulama Salaf yang menafsirkan kalimat “Khaataman Nabiyyin” dalam Al Qur’an dengan mengikuti kaidah tata bahasa Arab di atas? Mengingat tafsir yang dipopulerkan oleh para Ulama saat ini terhadap kalimat Khaataman Nabiyyin yang didasarkan atas klaim ijma’ seluruh Ulama adalah penutup para Nabi dalam arti tiada lagi akan ada Nabi yang diutus oleh Allah SWT. Berikut adalah penafsiran dari beberapa Ulama Salaf 1. Umayyah bin Abi Salt dlm Kitab Diwan hal 24 menulis mengenai Khaataman nabiyin “Dengannya Rasulullah saw telah dicap/stempel para nabi sebelum maupun sesudahnya”. 2. Abu Ubaidah wafat 209 H ketika mengomentari Khair Al Khawatim dlm Naqa’id ibn Jarir dan Faradzaq tentang rasulullahsaw sebagai khaataman nabiyyin “Nabi saw adalah Khaatam al Anbiya, yaitu sebaik-baik para nabi”. 3. Abu Riyash Ahmad Ibrahim Al Qaisi wafat 339 H dlm mengomentari kitab Hasyimiyyat karangan Al Kumait berkata “Barang siapa mengatakan Khaatim al anbiya, maka ia adalah dengannya para nabi di cap/stempel, dan barang siapa yg mengatakan Khaatam al anbiya, maka ia adalah sebaik-baik para nabi. Dikatakan” Fulan khaatam kaumnya”, yakni ia adalah terbaik dari antara mereka”. 4. Allamah Al Zarqani menulis dlm Syarah Al Mawahib Al Laduniyah Juz III, hal 163, bahwa jika khatam dibaca dengan baris di atas ta sebagaimana tersebut dlm Al Qur’an al ahzab 40, maka artinya “sebaik-baik para nabi dlm hal kejadian dan dalam hal akhlak”. 5. Imam Mulla Ali al Qari menulis dlm kitabnya Al Maudhu’at tentang Khaatam Al Nabiyyin “Tidak akan datang lagi sembarang nabi yg akan memansukhkan agama Islam dan yg bukan dari umat beliau”. 6. Syekh Abdul Qadir Al Jaelani dlm Kitab ” Al Insanul Kamil” cetakan Mesir, bab 33, hal 76 menulis “Kenabian yg mengandung sya’riat baru sudah putus. Nabi Muhammad adalah “Khaataman nabiyyin”, ialah karena beliau telah membawa syari’at yg sudah sempurna dan tiada ada seorang Nabi pun dahulunya yg membawa syariat yg begitu sempurna”. 7. Ibnu Khuldun telah menulis dalam mukadimah tarikh-nya hal 271 “Bahwa ulama-ulama Tasawuf mengartikan “Khaataman Nabiyyin” begini; yakni Nabi yg sudah mendapat kenabian yg sempurna dalam segala hal”. 8. Syekh Abdul Qadir Al Karostistani menulis ” Adanya beliau saw Khaataman nabiyyin maknanya ialah sesudah beliau tidak akan ada nabi diutus dengan membawa syariat lain”. Taqribul Muram, jld 2, hal 233. 9. Hazrat Sufi Muhyidin Ibn Arabi menulis “Nubuwat dan Risalah Tasyri’i pembawa Syariat telah tertutup, oleh karena itu sesudah Rasulullah saw tidak akan ada lagi Nabi pembawa/penyandang Syari’at….kecuali demi kasih sayang Allah untuk mereka akan diberlakukan Nubuwat umum yg tidak membawa syariat” Fushushul Hakam, hal 140-141. Lagi beliau menulis dalam Futuhat al makiyyah Juz 2 ” Berkata ia Yakni tidak ada Nabi sesudahku yg berada pada syariat yg menyalahi syariatku , Sebaliknya apabila nanti ada Nabi maka ia akan berada di bawah kekuasaan syariatku”. 10. Syekh Muhammad Thahir Gujarati menulis “Sesungguhnya yg beliau kehendaki ialah tidak ada Nabi yg mengganti syari’at beliau”. Takmilah Majma’il Bihar, hal 85. 11. Siti Aisyah bersabda “Hai, orang-orang kalian boleh mengatakan Khaatamul anbiya, tapi jangan mengatakan setelah beliau tidak ada lagi nabi”. Tafsir Darul Mantsur Imam As Suyuthi, Jld V, 12. Hz. Abdul Wahab Sya’rani Wafat 976H menulis “Ketahuilah bahwa kenabian mutlak tidak tertutup, hanya kenabian syar’i yg membawa syariat yg telah tutup”. Al Yawaqit wal Jawahir, jld 2, Dari keterangan di atas maka bisa disimpulkan bahwa penafsiran Khaataman Nabiyyin sebagai Penutup Kenabian jenis apapun bukanlah satu-satunya penafsiran. Para penafsiran Ulama Salaf di atas menerangkan bahwa 1. Khaatamun Nabiyyin adalah pangkat / derajat kenabian tertinggi tersempurna yang dikaruniai oleh Allah SWT kepada Rasulullah Muhammad saw. 2. Kesempurnaan ini juga terkait dengan nikmat syariat yang beliau bawa yaitu Islam. 3. Tidak ada Nabi lagi yang akan datang yang akan melampaui atau bahkan membatalkan kesempurnaan derajat dan syariat beliau Beliau saw penutup Kenabian Syar’i. 4. Tidak semua jenis kenabian tertutup, hanya kenabian yang membawa syariat yang tertutup. 5. Jika ada Nabi yang datang maka akan tunduk dalam syariat Islam dan berasal dari umatnya. Juni 16, 2008 - Posted by Hadits dan Quran Belum ada komentar. Insan kamil kepada siapa Kitab Al-Quran diwahyukan tidak terbatas kemampuan kasyafnya, dan tidak juga mempunyai kekurangan dalam belas kasihnya. Baik dari sudut pandang saatnya mau pun tempat, jiwa beliau selalu penuh dengan belas kasih. Karena itulah beliau dikaruniai dengan manifestasi alamiah dan beliau dijadikan sebagai Khãtamul Anbiyã. Pengertian Khãtamul Anbiyã bukannya berarti bahwa tidak ada lagi yang menerima rahmat kerohanian dari beliau, melainkan penegasan bahwa beliau memiliki Meterai Kenabian dimana tanpa kesaksian dari meterai tersebut tidak akan ada rahmat yang bisa mencapai seseorang. Pengertian Khãtamul Anbiyã juga mensiratkan bahwa pintu untuk bercakap-cakap dengan Tuhan tidak akan pernah ditutup. Di samping beliau tidak ada lagi Nabi lain yang memiliki Meterai Kenabian demikian. Melalui kesaksian dari Meterai tersebut itulah maka Kenabian bisa dikaruniakan kepada manusia dengan syarat bahwa yang bersangkutan adalah pengikut taat dari Yang Mulia Rasulullah saw .” “Kadar keberanian dan rasa belas kasih beliau yang luhur tidak ingin meninggalkan umatnya dalam kondisi berkekurangan dan tidak bisa menerimakan bahwa pintu wahyu yang menjadi akar dari semua pemahaman telah tertutup. Namun untuk memastikan bahwa tanda Kenabian walau telah ditutup, beliau menginginkan bahwa rahmat wahyu tetap bisa diberikan melalui kepatuhan kepada beliau dan bahwa pintu ini tertutup sudah bagi yang bukan menjadi pengikut beliau. Allah swt menunjuk beliau sebagai Khãtamul Anbiyã dalam pengertian seperti ini. Dengan demikian telah ditetapkan bahwa sampai dengan Hari Penghisaban nanti barangsiapa yang terbukti tidak menjadi pengikut beliau yang setia dan tidak mengabdikan keseluruhan dirinya pada ketaatan kepada beliau maka ia tidak akan pernah bisa menjadi penerima wahyu yang sempurna. Kenabian yang bersifat langsung telah berakhir dalam wujud Yang Mulia Rasulullah saw namun Kenabian yang merupakan refleksi atau pantulan dari rahmat Yang Mulia Nabi Muhammad saw akan terus berlanjut sampai dengan Hari Penghisaban. Dengan demikian pintu untuk penyempurnaan umat manusia tidak akan pernah ditutup dan tanda ini tidak akan pupus dari muka bumi karena maksud luhur dari Yang Mulia Rasulullah saw menginginkan bahwa pintu untuk berhubungan dan bercakap-cakap dengan Tuhan harus tetap terbuka sampai dengan Hari Penghisaban, serta pemahaman Ilahiah yang menjadi dasar dari keselamatan rohani tidak akan pernah sirna.” Haqiqatul Wahyi, Qadian, Magazine Press, 1907; Rohani Khazain, vol. 22, hal. 29-30, London, 1984. *** “AKU BERSAKSI dengan penuh keyakinan bahwa keluhuran Kenabian telah mencapai puncaknya dalam diri Yang Mulia Rasulullah saw Seseorang yang melakukan sesuatu yang bertentangan dengan beliau dan mengemukakan kebenaran yang berada di luar Kenabian beliau serta mengingkari Kenabian tersebut adalah seorang yang palsu dan pendusta. Aku katakan secara tegas bahwa siapa pun yang beriman kepada seorang Nabi setelah Yang Mulia Rasulullah saw dan memecahkan Meterai Kenabian beliau adalah orang yang terkutuk. Tidak ada Nabi baru yang bisa muncul setelah Yang Mulia Rasulullah saw yang tidak mendapat pengesahan dari meterai Kenabian Muhammadi. Umat Muslim yang menentang kita keliru karena mereka meyakini akan kedatangan seorang Nabi Israili yang akan memecah meterai Kenabian. Aku memaklumkan bahwa menjadi manifestasi kekuatan kerohanian Yang Mulia Rasulullah saw dan Kenabian beliau yang bersifat abadi yaitu setelah 1300 tahun setelah beliau akan muncul Al-Masih yang Dijanjikan sebagai anak didik beliau dengan mengemban meterai Kenabian yang sama. Kalau pandangan ini dianggap kafir maka biarlah aku menjadi kafir. Mereka yang penalarannya telah digelapkan dan tidak memperoleh karunia nur Kenabian tidak akan pernah bisa memahami hal ini serta menganggapnya sebagai kafir, padahal justru ini merupakan hal yang membuktikan kesempurnaan Nabi Suci Muhammad saw dan kehidupan beliau yang kekal.” Al-Hakam, 10 Juni 1905, hal. 2. *** “Manusia tidak perlu lagi mengikuti Kenabian dan Kitab-kitab yang datang sebelum Yang Mulia Rasulullah saw karena Kenabian Muhammadi telah mencakup seluruh ajaran mereka dimana semua kebenaran sudah terkandung di dalam ajaran beliau. Tidak ada kebenaran baru yang akan muncul setelah agama Islam karena semua kebenaran telah tercakup di dalamnya. Karena itu semua Kenabian berakhir dengan Kenabian beliau sebagaimana seharusnya, karena setiap hal yang ada awalnya pasti ada akhirnya juga. Hanya saja Kenabian Muhammadi tidak akan berkekurangan dalam berkat. Kenabian ini jauh lebih berberkat dibanding semua Kenabian lainnya. Dengan mengikuti Kenabian Muhammadi maka seseorang akan mudah mencapai Tuhan dan dengan mengikutinya maka seseorang akan dikaruniai rahmat Ilahi berupa kasih Allah swt dan kesempatan berbicara dengan-Nya lebih dari pada ajaran sebelumnya. Penganutnya yang sempurna tidak akan disebut sebagai Nabi saja karena akan merupakan penghinaan bagi Kenabian Muhammadi yang sempurna. Ia hanya bisa disebut sebagai pengikut dari Yang Mulia Rasulullah saw dan sebagai seorang Nabi, keduanya pada saat yang bersamaan. Dengan cara demikian maka tidak ada penghinaan bagi Kenabian Muhammadi yang sempurna, bahkan rahmatnya malah menjadi bersinar lebih terang lagi. Al-Wasiyyat, Qadian, Magazine Press, 1905; Rohani Khazain, vol. 20, hal. 311, London, 1984. *** “Kami meyakini bahwa seseorang yang melenceng dari ajaran kaidah Yang Mulia Rasulullah saw walau pun sedikit adalah seorang yang ingkar. Jika seseorang yang berpaling dari ajaran Yang Mulia Rasulullah saw adalah seorang yang ingkar, bagaimana pula dengan seseorang yang mengaku membawa ajaran baru atau akan merubah Al-Quran dan Sunah Rasul atau memansukhkan salah satu kaidah? Menurut hemat kami yang disebut sebagai muminin adalah ia yang sepenuhnya mengikuti Al-Quran dan meyakininya sebagai Kitab yang terakhir diwahyukan, mematuhi ajaran Yang Mulia Rasulullah saw sebagai ajaran yang abadi dan tidak akan merubahnya walau sekecil apa pun, memfanakan diri dalam mengikutinya, tidak menentangnya baik dengan logika atau pun perilaku. Demikian itulah baru ia itu disebut Muslim sejati.” Al-Hakam, 6 Mei 1908, hal. 5. Tulisan ini dikutip dari buku “Inti Ajaran Islam Bagian Pertama, ekstraksi dari Tulisan, Pidato, Pengumuman dan Wacana Masih Mau’ud dan Imam Mahdi, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as”. Neratja Press, hal 259-262, ISBN 185372-765-2 Umat Islam, tanpa kecuali, beriman dan berkeyakinan tanpa ragu-ragu, bahwa Nabi Suci Muhammad adalah khâtamun Nabiyyîn. Akan tetapi arti dan tafsirnya berbeda pendapat. Frase khâtamun-nabiyyîn termaktub dalam Quran Suci 3340. Frase ini terdiri dari dua kata, yaitu khâtam dan an-nabiyyin artinya nabi-nabi. Kata khâtam berasal dari akar kata khatama, yakhtumu, khatman makna aslinya mencap, memeterai, menyegel, menyudahi, mensahkan atau mencetakkan pada suatu barang artinya cincin meterai atau cincin stempel, segel atau bagian terakhir dari sutau barang, seperti dalam ungkapan khâtamul-qaum selalu berarti kaum yang terakhir-âkhiruhum Lane & Tajud’Arus; kata dalam ayat tersebut dapat dibaca khâtam atau khâtim artinya segel atau bagian terakhir. Jadi kata khâtaman-nabiyyîn artinya 1 penutup nabi-nabi; 2 meterai sekalian nabi, dan 3 segel penutup para nabi. Penutup nabi-nabi. Arti pertama ini antara lain digunakan oleh Al-Quran dan Tafsirnya Departemen Agama RI dan para mufassir umumnya maksudnya, sesudah Nabi Suci Muhammad saw “Tak ada Nabi lagi setelah beliau” yang diangkat oleh Allah, karena pada halaman lain diterangkan akan datangnya para nabi terdahulu, yakni nabi-nabi yang pengangkatannya sebelum Nabi Suci Muhammad saw diutus 570-632 M, seperti Nabiyullah Isa ibn Maryam dari bangsa Israel. Banyak para ulama yang meyakini Nabi Isa as akan datang atau turun ke dunia pada zaman akhir nanti sebagai tanda akan terjadinya Kiamat; beliau sekarang menurut Majelis Ulama Indonesia MUI dalam Penjelasan Fatwa MUI 2005 masih hidup di langit seperti yang diyakini oleh umat Kristen. Keyakinan ini dijustifikasi dengan ayat-ayat Quran Suci, antara lain ayat 4158 yang tafsirnya sebagai berikut “Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa Nabi Isa as itu diangkat atas perintah Allah oleh keempat malaikat ke langit ketiga dengan badan dan rohnya dan akan diturunkan kembali diakhir zaman sebagai pembela umat Islam dan penerus syariat Nabi Muhammad saw pada saat umat Islam berada dalam keadaan kelemahan setelah datangnya Dajjal. Dan kejadian ini menunjukkan atas kekuasaan Allah untuk menyelamatkan Nabi-Nya, sesuai dengan kebijaksanaan-Nya yang tercantum dalam firman Allah “Ingatlah ketika Allah berfirman “Hai Isa sesungguhnya Aku akan menyampaikan kepada kamu kepada akhir ajalmu, dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir…355” Al-Quran dan Tafsirnya, Jilid II, hlm 347. Dari uraian tersebut jelaslah bahwa menurut jumhur ulama setelah Nabi Suci Muhammad saw akan datang seorang nabi lama dari bangsa Israel yang kedatangannya tanpa syariat, sebab beliau “diturunkan kembali di akhir zaman sebagai pembela umat Islam dan penerus syariat Nabi Muhammad saw”. Kerancuan ini terjadi karena berpegang kepada arti harfiah kata rafa’a dan nazala Isa ibn Maryam dalam Quran Suci dan Hadits Nabi tentang profetik-eskatologk. Israeliat dan Nashrasiat juga mempengaruhi mereka. Menurut dogma Kristen Yesus Kristus terangkat ke Sorga, duduk disebelah kanan Allah dan akan turun ke dunia untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati Pengakuan Iman Rasuli ke 6 dan 7. Meterai sekalian nabi. Arti kedua ini menurut Ahmadiyah Qadiani, sebagaimana tertulis dalam Alquran dengan Terjemah dan Tafsir Singkat. Dijelaskan, bahwa “ungkapan Khataman-Nabiyyin dapat mempunyai kemungkinan empat macam arti 1 Rasulullah saw adalah meterai para nabi, yakni, tiada nabi dapat dianggap benar, kalau semua nabi yang sudah lampau harus dikuatkan dan disahkan oleh Rasulullah saw dan juga tiada seorangpun yang dapat mencapai tingkat kenabian sesudah beliau, kecuali dengan menjadi pengikut beliau. 2 Rasulullah saw adalah yang terbaik, termulia dan paling sempurna dari antara semua nabi dan juga beliau adalah sumber hiasan bagi mereka Zurqoni, Syarah Mawahib al-Laduniyah. 3 Rasulullah saw adalah yang terakhir diantara para nabi pembawa syariat. Penafsiran ini telah diterima oleh para ulama terkemuka, orang-orang suci dan waliyullah seperti Ibn Arabi, Syah waliyullah, Imam Ali Qari’, Mujaddid Alfi Tsani, dan lain-lain… 4 Rasululah saw adalah nabi yang terakahir Âkhirul-Anbiyâ’ hanya dalam arti kata, bahwa semua nilai dan sifat kenabian terjelma dengan sesempurna-sempurnanya dan selengkap-lengkapnya dalam diri beliau; khâtam dalam arti sebutan terakhir untuk menggambarkan kebagusan dan kesempurnaan, adalah lazim dipakai” Tafsir no. 2359. Dari uraian tersebut terang sekali, bahwa Nabi Suci Muhammad saw bukanlah penutup nabi-nabi, karena Nabi Suci hanyalah “yang terakhir diantara para Nabi pembawa syariat” dan “khatam dalam arti sebutan terakhir untuk menggambarkan kebagusan kesempurnaan adalah lazim dipakai”, contohnya dikemukakan pada buku-buku yang lain; dijelaskan bahwa ungkapan Khâtamun-Nabiyyîn adalah “Murakkab Idhafi“, karena kata khâtam adalah mudhâf dan an-nabiyyîn adalah mudhafilaih bentuk jamak, seperti syu’arâ, auliya’, muhâjirîn, dan lain-lain; kata khâtam artinya kelebihan, keagungan dan kesempurnaan, seperti Abu Tamam, seorang penyair dikatakan khâtamusy-syu’arâ’, Sayidina Ali dan Ibnu Arabi dikatakan khâtamul-auliyâ’, Ibn Abbas disebut khâtamul-muhâjirîn, dan lain-lain. Di samping itu masih ditopang dengan alasan-alasan linguistik yang digunakan terlalu ketat terhadap Quran Suci dan Hadits Nabi yang ujung-ujungnya untuk dalil menabikan seseorang dan juga melahirkan pendapat bahwa pangkat dan jabatan kenabian dapat diminta dan diusahakan oleh manusia. Khâtamun-Nabiyyîn dalam “penutup nabi-nabi” mereka tolak. Dengan demikian setelah Nabi Suci Muhammad saw pintu kenabian tetap terbuka tidak tertutup, tetapi yang akan datang adalah nabi tanpa syarait, seperti yang dikemukakan oleh Muhyiddin ibnu Arabi atau seperti yang dipahami oleh para ahli sufi. Di sini juga terjadi kerancuan seperti pendapat pertama. Hanya bedanya, pendapat pertama tak mengenal istilah sufi, segala sesuatunya hanya didasarkan atas istilah sufi; sedang penadpat yang kedua tak membedakan antara istilah sufi dengan istilah syar’i. Memang pada zaman Nabi Suci antara keduanya belum dibedakan. Pembedaan terjadi dikemudian hari pasca Nabi Suci sebagai manifestasi penjagaan keaslian Quran Suci 159 secara maknawi atau rohani. Oleh karena itu kedua pendapat tersebut selalu bertentangan, tak dapat dipertemukan. Hal ini membuktikan bahwa keduanya salah. Kesalahpahaman karena sama-sama meyakini akan datangnya seorang Nabi tanpa syariat setelah Nabi Suci Muhammad saw. Hanya bedanya, menurut pendapat pertama yang akan datang adalah seorang Nabi lama, yaitu Nabiyullah Isa ibnu Maryam dari Bani Israel yang sampai sekarang belum datang masih hidup di langit; sedang menurut pendapat keduanya, yang datang adalah nabi baru—bukan nabi lama, karena mereka telah wafat, termasuk Nabiyulah Isa ibn Maryam yang kini telah datang, yaitu Hazrat Mirza Ghulam Ahmad Alqadiyani 1835-1908. Menurut mereka, beliau adalah seorang Nabi tanpa syariat seperti halnya Yahya, Zakaria, Isa Almasih, dan sebagainya. Jadi menurut pendapat pertama Khatamun-Nabiyyîn itu dalam arti penutup nabi-nabi hanya dalam arti pengangkatan saja, bukan kedatangannya. Maka dari itu selian Nabi Isa ada Nabi-nabi lain yang sekarang dianggap masih hidup, yaitu Nabi Idris, Nabi Khidhir dan Nabi Ilyas. Segel penutup para nabi. Arti ketiga ini dikemukakan oleh Maulana Muhammad Ali dalam tafsirnya The Holy Qur’an sebagai penerus Hazrat Mirza Ghulam Ahmad. Beliau terangkan, “Kata khâtam berarti segel atau bagian terakhir dari suatu barang; yang tersebut belakangan adalah makna asli dari kata khâtim“. Lebih lanjut beliau jelaskan “Walaupun umum mengakui bahwa Nabi Suci adalah kesudahan para Nabi, bahkan sejarahpun menerangkan bahwa setelah beliau tak ada Nabi lagi yang muncul, namun Quran menggunakan kata khâtam, bukan khatim, karena kata segel para Nabi mengandung arti yang lebih dalam daripada kata penutup para Nabi. Sebenarnya kata khatam mengandung arti penutup yang digabung dengan kesempurnaan wahyu kenabian, bersamaan pula dengan kelestarian penganugerahan sesuatu wahyu kenabian di kalangan para pengikut Nabi Suci”. Menurut beliau “Tugas para Nabi hanyalah memimpin manusia, baik dengan memberi hukum syariat maupun membersihkan hukum syariat yang sudah ada dari segala macam ketidaksempurnaan atau dengan memberi petunjuk baru yang memenuhi kebutuhan zaman, karena keadaan masyarakat pada zaman dahulu tak memerlukan diturunkannya wahyu tentang undang-undang yang sempurna selaras dengan keperluan berbagai macam generasi dan berbagai tempat. Oleh sebab itu, Nabi-nabi senantiasa dibangkitkan. Tetapi dengan datangnya Nabi Suci, diturunkanlah undang-undang yang sempurna, yang cocok dengan keperluan segala zaman dan daerah, dan undang-undang ini dijamin keselamatannya dari segala macam kerusakan, dan oleh karena itu tak diperlukan lagi jabatan kenabian”. Masih beliau lengkapi “Tetapi ini tidaklah berarti, bahwa nikmat Tuhan yang dianugerahkan kepada hambaNya yang terpilih, tak dianugerahkan kepada orang yang terpilih diantara kaum Muslimin. Orang tak memerlukan lagi syariat baru, karena mereka telah mempunyai syariat yang sempurna, tetapi mereka masih tetap memerlukan turunnya nikmat Tuhan. Nikmat Tuhan yang paling tinggi ialah Wahyu; dan Islam mengakui bahwa sekarangpun Tuhan bersabda kepada hamba-Nya yang terpilih, sebagaimana Allah dahulu bersabda, tetapi orang yang diberi sabda itu bukan Nabi dalam arti kata yang sesungguhnya”. Tafsir no. 1994. Dari uraian tersebut teranglah, bahwa Nabi Suci sebagai Khâtamun-Nabiyyîn dalam arti segel penutup para nabi, arti ini mengandung dua aspek, yaitu kesempurnaan bergabung dengan akhir kenabian. Kesempurnaannya, karena karya yang dilaksanakan oleh para Nabi terdahulu sesudah beliau dilestarikan oleh umat Islam untuk selamanya dengan keberkatan beliau mereka dapat mencapai pangkat atau maqam seperti para Nabi terdahulu, sebagaimana dinyatakan oleh Nabi Suci “ulama-ulama umatku seperti para nabi Israel”. Sedang berakhirnya kenabian pada diri Nabi Suci, karena sesudah beliau tidak akan datang Nabi lagi, baik nabi lama ataupun nabi baru, sebagaimana ditegaskan oleh Nabi Suci “Tak ada Nabi sesudahku”. Jadi yang telah diakhiri atau ditutup, tak dibuka lagi adalah jabatan kenabian, bukan pangkat atau maqam kenabian yang secara sufiyah disebut nabi tanpa syariat, nabi buruzi, nabi zhilli, nabi ummati, nabi majasi, nabi juz’i dan nabi ghairu mustaqil yang secara syar’i bukan nabi; istilah nabi secara syar’i dalam istilah sufi oleh Hazrat Mirza Ghulam Ahmad disebut nabi tasyri’, nabi hakiki, nabi mustaqil, dan nabi tammah. Oleh karena hanya pangkat atau maqam yang dapat dicapai oleh orang-orang tertentu, maka selain data diupayakan juga boleh dimohon, bahkan dianjurkan agar umat Islam memohonnya 406 yang isi permohonannya diterangkan dalam tiga ayat terakhir Surat Alfatihah. Nabi Suci bersabda “Tak ada lagi wahyu kenabian kecuali mubasysyarât kabar baik“. Dan tatkala beliau ditanya “Apakah mubasysyarat itu?” Beliau menjawab “Impian yang baik” Bukhari. Hadits lain meriwayatkan “Impian serang mukmin adalah seperempat puluh enam bagian dari wahyu kenabian” Bukhari. Jadi wahyu kenabian tiada lagi, tetapi sebagian dari wahyu kenabian tetap ada, dan akan tetap dikaruniakan selama-lamanya dikalangan pengikut Nabi Suci sebagaimana dinyatakan dalam Quran Suci 469-70. Arti signifikan Khâtamun-Nabiyyîn. Ayat Khâtamun-Nabiyyîn selengkapnya sebagai berikut “Muhammad bukanlah ayah salah seorang dari orang laki-laki kamu, melainkan dia itu Utusan Allah dan segel penutup nabi-nabi. Dan Allah senantiasa Yang Maha-tahu akan segala sesuatu” 3340. Ada tiga hal yang disebutkan dalam ayat ini 1 Muhammad saw bukanlah ayah seorang lelaki diantara umat Islam, 2 beliau seorang Utusan Allah, dan 3 beliau adalah segel penutup nabi-nabi. Hubungan antara ketiganya sebagai berikut Karena silsilah berlanjut dari laki-laki, bukan dari keturunan perempuan, maka Muhammad bukanlah ayah salah seorang dari laki-laki kamu, berarti keturunan secara jasmani Muhammad saw telah terputus, tetapi secara rohani beliau adalah bapak segenap umat Islam, sebab beliau adalah Utusan Allah—para Nabi Utusan Allah adalah bapak rohani umatnya—dan kebapakan beliau berlangsung terus, tak berkesudahan, sebab beliau adalah segel penutup nabi-nabi. Di sinilah arti signifikannya Khâtamun-Nabiyyîn dalam arti akhir para nabi, sesudah beliau tak akan datang nabi lagi, baik nabi lama ataupun nabi baru. Jika datang nabi baru garis keturunan spiritual dari nabi sebelumnya terutus, beralih kepada nabi baru. Jika secara lahiriah seorang anak mempunyai kemiripan wajah, penampilan, bakat, karakter, dan sifat-sifat bapaknya, demikian pula secara rohani seseorang yang taat dan patuh mengikuti seseorang Utusan Allah ia dapat menjadi mirip seperti beliau yang menjadi bapak rohaninya, misalnya kemiripan kaum Yahudi dengan Musa, kemiripan kaum Kristiani dengan Isa Almasih Yesus Kristus, kemiripan kaum Budhis dengan Siddharta Gotama, kemiripan kaum Hindu dengan Sri Krisna, dan sebagainya yang semua itu sekarang berlangsng terus dan data dicapai oleh anak-anak rohani Muhammad saw berkat ketaatan yang sempurna terhadap diri beliau sebagai Khâtamun-Nabiyyîn. Ingat, mereka hanyalah sebagai bayangan zhill dan penampakan buruzi beliau saja, bukan Nabi, sebab “nabi-nabi itu bersaudara, ibu mereka berbeda tetapi agamanya satu” Misykat. Para Nabi itu yang pertama dalam Adam dan yang terakhir adalah Muhammad saw, semuanya bapak rohani umatnya masing-masing. Demikianlah arti signifikan ayat Khâtamun-Nabiyîn yang diturunkan setelah Ibrahim putra Nabi Suci wafat dan setelah beliau menikahi Siti Zainab di bawah wahyu Ilahi 3337-38, maksud ayat suci itu bukan hanya sekedar menjelaskan kedudukan anak angkat secara hukum tidak sama dengan anak kandung, dan bukan pula hanya sekedar membantah tuduhan kaum kafir, bahwa beliau abtar, terputus silsilahnya karena tak punya anak laki-laki saja, melainkan Dia telah menjadikan beliau sebagai Utusan Allah atau bapak rohani segenap umat Islam dan kebapakan beliau tak akan pernah terputus, sebab beliau Nabi terakhir. Jadi ayat ini memberi tahu dunia, bahwa keturunan lahiriah dan hubungan kekerabatan jasmaniah itu tiada nilanya dihadapan Tuhan, maka ditegaskan “Muhammad bukanlah ayah salah seorang dari orang laki-laki kamu”. Dengan demikian akidah tentang Imamah atau Imarah syaratnya Quraisyiyah atau Ahlul-Bait baca Alawiyah bertentangan dengan asas Quran yang telah menetapkan Nabi Suci sebagai Nabi terakhir, sehingga silsilah rohaniah yang nilainya jauh lebih tinggi daripada silsilah jasmaniah, tak akan terputus di dunia. Di samping itu juga merupakan kabar baik bagi dunia, bahwa kenikmatan yang dinugerahkan kepada para Nabi terdahulu akan terus lestari dianugerahkan kepada siapapun, asal menjadi pengikut beliau dengan tulus yang sejatinya ia tak meninggalkan Nabi terdahulu yang menjadi ikutannya, sebab kedatangan para Nabi itu hanyalah mempersiapkan umatnya masing-masing agar menerima beliau 391. Misalnya umat Kristen untuk menjadi “anak Allah” seperti Yesus Yoh 1033-36 jalannya bukanlah mengikuti ajaran dan keteladanan Yesus dalam Injil, sebab Injil yang ada sekarang dalam Perjanjian Baru bukanlah “Injil Yesus” atau “Injil dari Yesus” akan tetapi hanya “Injil tentang Yesus Kristus”Mrk 11. Oleh karena itu siapapun dapat menulisnya, bukan monopoli Matius, Markus, Lukas, Yohanes dan Paulus saja, tetapi juga siapapun yang mau demi ekspresi imannya. Jalan untuk menjadi “anak-anak Allah” Mat 59 melalui “Injil tentang Yesus” terhalang, akan tetapi terbuka lebar melalui Quran Suci yang keasliannya terjaga 159 dengan jalan mengikuti ajaran dan teladan Nabi Suci Muhammad saw. Sebagai Khâtamun-Nabiyyîn dalam diri beliau terkumpul semua sifat nabi-nabi terdahulu, seperti keperwiraan Musa, kebijakan Yoshua, keberanian Daud, kemegahan Sulaiman, kesabaran Ayub, kesederhanaan Yahya, keugaharian Isa Almasih, kezuhudan Siddharta Gotama, dan sebagainya sebagaimana dalam Quran Suci terdapat Kitab-kitab Suci terdahulu yang benar 982-3. Penggunaan kata khâtam. Kata khatam memiliki bermacam-macam arti yang inti pengertiannya berkaitan erat dengan keabsahan surat-surat. Penggunaannya sejak masa Nabi Suci, bahkan sejak sebelum beliau, karena khâtam dalam arti cincin stempel merupakan salah satu atribut raja sebagai tanda kebesaran dan kemegahan. Raja dapat membubuhkan khâtam pada bagian akhir surat dengan tinta. Diceritakan bahwa ketika Nabi Suci hendak mengirim surat dakwah kepada para penguasa disekitar Jazirah Arab. Kepada Nabi Suci diinformasikan, bahwa raja-raja non Arab ajam hanya mau menerima surat-surat yang diberi khâtam. Maka Nabi Suci membuat khâtam cincin stempel dari bahan perak berukirkan “Muhammad Rasulullah”. Penggunaan khâtam itu diteruskan oleh Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan juga para khalifah Bani Umayah dan Bani Abbasiyah. Setiap orang yang memangku jabatan khalifah memiliki khâtam. Didalamnya tak diukirkan nama khalifah, tetapi diukirkan kata-kata hikmah atau slogan, misalnya khâtam Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali masing-masing diukirkan kata-kata Ni’matul-Qâdirillâh yang Maha-kuasa Yang paling baik adalah Allah, Kafâbil-manti Wa’izham Yâ Umar Cukuplah kematian menjadi peringatan bagimu, Latashbiranna an latan damanna Engkau bersabar atau menyesal dan Al-Mulku lillâh Kekuasaan hanya bagi Allah. Khatam juga berarti akhir. Maksudnya, tulisan yang telah diberi khatam itu benar dan sah atau penulisan surat sudah selesai dan lengkap dengan diberinya khâtam. Dengan demikian frase khâtamun-nabiyîn artinya “segel penutup para nabi” dan arti ini yang lebih mendekati kebenaran dibanding arti-arti lainnya, karena mengandung dua aspek yaitu kesempurnaan bergabung dengan akhir kenabian. Jadi Nabi Suci Muhammad saw adalah Nabi yang sempurna atau yang terbesar dan terakhir kedatangannya, sebab sesudah beliau tak akan datang Nabi lagi, baik Nabi lama ataupun Nabi baru.[] This entry was posted on 16/10/2017, 513 am and is filed under ENSIKLOPEDI. You can follow any responses to this entry through RSS You can leave a response, or trackback from your own site. Agama IslamNabi Muhammad saw. sebagai khatamun nabiyyin, arti kata khataman nabiyyin adalah?Penutup para malaikatPenutup untuk para nabiPenutup para penghuluUtusan nabi terakhirUtusan terakhirJawaban yang benar adalah B. Penutup untuk para dari Ensiklopedia, nabi muhammad saw. sebagai khatamun nabiyyin, arti kata khataman nabiyyin adalah Penutup untuk para dan PenjelasanMenurut saya jawaban A. Penutup para malaikat adalah jawaban yang kurang tepat, karena sudah terlihat jelas antara pertanyaan dan jawaban tidak nyambung sama saya jawaban B. Penutup untuk para nabi adalah jawaban yang paling benar, bisa dibuktikan dari buku bacaan dan informasi yang ada di saya jawaban C. Penutup para penghulu adalah jawaban salah, karena jawaban tersebut lebih tepat kalau dipakai untuk pertanyaan saya jawaban D. Utusan nabi terakhir adalah jawaban salah, karena jawaban tersebut sudah melenceng dari apa yang saya jawaban E. Utusan terakhir adalah jawaban salah, karena setelah saya coba cari di google, jawaban ini lebih cocok untuk pertanyaan penjelasan dan pembahasan serta pilihan diatas, saya bisa menyimpulkan bahwa jawaban yang paling benar adalah B. Penutup untuk para nabi.

arti dari khataman nabiyyin adalah